Iklan :

8 April 2013

Mempelajari Rumus Rezeki


Beberapa hari lalu rumah saya kedatangan seorang tamu yang berkunjung kerumah saya. Dan orang ini memang telah banyak berjasa atas hidup saya dan Fabian Studio. Karena orang ini yang selalu mensupport ilmu dan sebagainya untuk kemajuan dari Studio yang saya miliki ini. 


Setelah selesai membicarakan perkembangan teknis, maka kami (saya sekeluarga dan dia) merencanakan untuk nongkrong mendengarkan live music di Sms Sumarecon Plaza. Karena ada Lemon Tea disana sedang perfomance dihari jumat lalu. Maka kami berniat menonton Panjul (drummernya Lemon Tea) dan kawan - kawan kesana. 

Sesampainya disana Panjul belum terlihat, karena biasanya dia perform jam 12 malam, dan kami sampai disana baru pukul 9 malam. Maka kami mencoba mengunjungi store ibox dan makan malam sejenak, karena setelah berdiskusi masalah teknis beberapa lama, maka kami terasa lapar juga. 

Lalu akhirnya sampai jam 12 malam waktu yang ditunggu kami menonton Lemon Tea di Sumarecon Mall Serpong. 

Waktu terasa cepat dan akhirnya kami kembali kerumah dan kebetulan sekali dia menginap dirumah saya. Pas bagun tidur kami sarapan dan berbicara tentang studio kami masing - masing. Hasil yang didapat dari Studio Visual kawan saya ini memang sangat besar, akan tetapi dia juga mendapatkan pengeluaran yang sangat besar pula. 

Begitupun dengan Fabian Studio yang memilki penghasilan yang tidak lebih besar dari Studio dia akan tetapi biaya operasional dari Fabian sendiri tidak lebih besar dari Studio yang dimilikinya. 

Baik saya maupun dia sama - sama mengalami kekurangan dalam porsinya masing - masing. Jadi dalam kata lain kami memang memiliki masalah yang sama dengan bobot yang berbeda. Inilah yang dinamakan rezeki dengan segala ambisinya manusia selalu tidak akan pernah ada yang cukup. 

Kurang selalu menjadi permasalahan manusia selama mereka memang masih hidup didunia fana ini. Bahkan saya berani menjamin, ketika kita sedang tertidur bahkan terlelap untuk selama - lamanya, maka kata kurang itu akan pergi dari kebutuhan kita. Setidaknya itulah yang dinamakan jalan rezeki. 

Rezeki memang selalu diberikan dan selalu disertakan dengan kekurangannya. Jadi akhirnya saya mengetahui mengapa saya selalu diminta untuk pandai menyukuri satu nikmat yang diberikanNYA walau sedikit, agar kita bisa mengimbangi rasa kurang tersebut. 

Bersyukur memang satu hal yang sangat langka pada saat belakangan ini. Dimana kita memang selalu melihat orang yang sudah cukup berbicara kurang sedangkan orang yang benar - benar kurang ketika dia teriak kurang, maka mereka akan menerima hukuman.

Sampai sedalam apapun akhirnya saya membedah tentang rumusnya sebuah rezeki, kunci jawabannya adalah tetap "bersyukur". Ini saya simpulkan ketika akhirnya saya selesai berbincang dengan kawan saya tadi pada pukul 18.00 WIB dan perbincangan dimulai dari pukul 11.00 WIB. 

Pelajaran seperti inilah yang saya sangat sukai dari kehidupan, dimana saya bisa share dan mendengarkan beberapa cerita dari orang yang saya anggap lebih berhasil dari saya tanpa ada rasa iri kenapa saya tidak bisa seperti dia. 

Karena semua sudah ada jalannya, dan semua memang sudah ada garisnya. Kita tidak akan mungkin bisa mencoret apa yang sudah dibuat olehNYA. Selayaknya saya hanyalah manusia biasa yang hanya percaya bahwa setiap garis yang sudah dibuat olehNYA, itu pasti kebaikan buat saya. 


Salam Kreatif, 



@rie fabian -
www.ariefabian.blogspot.com 












Reaksi Tulisan :

2 comments:

  1. kalo menurut mas, rejeki datang dari pekerjaan yang menghasilkan keuntungan besar meski itu bukan bidang kita,,ataukah rejeki akan datang dengan sendirinya dari apa yang kita sukai dan telah mendarah daging dalam diri kita walau jika diukur dengan ilmu matematika kemungkinan sangat kecil???

    Itu saja yang ingin saya tahu

    BalasHapus
  2. Mohamad >> Menurut saya rezeki datang kapan aja, baik dari sebuah perencanaan yang kita buat maupun tidak. Itu maksudnya memang dari apa yang kita bangun atau memang apa yang bukan menjadi bidang kita.

    Kalau saya sepakat rezeki itu datang atas usaha yang sedang atau akan kita lakukan. Karena kita diminta berusaha dan berdoa, ketika kita sudah melakukan keduanya dan belum mendatangkan rezeki maka kita bisa tingkatkan kerja keras kita.

    Dari tiga kali berusaha, mustahil itu tidak mendatangkan hasil. Kalau saya pribadi rasanya lebih mudah menguasai satu bidang yang mana kita bisa kembangkan seluas - luasnya. Karena dalam pembentukan image untuk personal brandingnya akan lebih kuat, tapi ada juga beberapa kawan saya yang melakukan pekerjaan banyak bidang yang sukses pada saat sekarang.

    Hanya saja untuk saya itu terlalu luas cakupan pemikirannya. Saya amat yakin akan kalimat "nobody perfect" daripada kita ingin menguasai banyak bidang dan jadinya hanya setengah - setengah lebih baik satu bidang tapi mengerti sampai ke akar - akarnya.

    Terkadang saya berfikir hidup ini terlalu singkat untuk memikirkan banyak bidang. Karena satu bidang saja tidak cukup waktu kita membedah dan menguliti sampai keakarnya, itu semua karena pada dasarnya semua bidang dinamis, bergerak terus.

    Ilmu matematis yang saya ketahui seberapa besar usaha maka seberapa besar hasil. Jadi peluang itu kita yang membuat bukan kita menggunakan dengan faktor kemungkinan - kemungkinan yang hanya akan membuat kita ragu dalam menyikapinya.

    Keyakinan dan jalani itu adalah sebuah usaha yang sangat baik, karena tidak sedikit orang yang hanya ketakutan pada rasa takutnya sendiri, yang belum tentu itu akan terjadi.


    Salam kenal yah mas,



    @rie fabian -
    www.fabianstudio.biz

    BalasHapus

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.