Iklan :

9 April 2014

sempurnanya manusia



"Tidak ada satupun manusia yang sempurna", kalimat itu sering sekali kita dengar akan tetapi sulit sekali kita menerimanya. Kita sering sekali perpandangan kalau orang lain itu harus bisa mengikuti kita. Tapi terkadang ketika mereka (orang lain) tidak bisa mengikuti apa yang kita mau, langsung saja kita cepat mengambil kesimpulan kalau dia tidak baik dengan kita.



Padahal kalau kita kembalikan lagi kalimat diatas maka kita seharusnya sadar bahwa bagaimanapun kawan kita juga bentuknya manusia yang pasti punya kekurangan. Lalu kenapa kita tidak bisa menerima ? 

Ketika kekecewaan timbul terkadang kita lupa, bahwa rangkaian kehidupan ini ada yang mengatur. Kita vonis kawan kita tidak baik, kita maki kawan kita dan kita terus saja menghujat dan sepertinya dia sedang lupa kalau dia memang sedang diberikan ujian dariNya.

Saya pernah memikirkan, jika memang semua kehidupan sudah ada yang mengatur sebenarnya kita tidak perlu pusing lagi seharusnya. Karena diamnya kita pun sudah diatur sedemikian rupanya sehingga kita memang sudah teratur sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.

Sebagai contoh jika kita ingin dicelakakan oleh orang lain, ketika itu Sang maha Kuasa tidak mengijinkan untuk kita celaka atau tidak di acc, maka seperti apapun hasil akhirnya maka kita seharusnya tidak akan celaka. Begitu juga sebaliknya, jika kita memang diharuskan celaka maka menjaga diri kita sebaik apapun sudah pasti hasilnya akan celaka.

Terkadang kita lupa, bahwa tua itu memiliki rangkaian kejadian. Berawal dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan akhirnya tua. Begitupun dengan semua rangkaian proses yang ada dimuka bumi ini. Semuanya harusnya adalah rangkaian.

Kita bisa mendapatkan rejeki maka rangkaiannya adalah bekerja, berusaha, gagal, berhasil. Ketika gagal seharusnya kita cepat evaluasi langkah dan perbaiki kedepan bukan menyalahkan orang lain. Karena apa yang terjadi dengan kita hanyalah kita yang mengetahuinya.

Saya sering mengatakan orang lain adalah cerminan dari kita sendiri. Kalau kita bisa bijaksana maka kita akan mendapatkan kawan yang bijaksana, kalau kita pemarah maka hampir bisa dipastikan akan berkawan dengan orang yang pemarah juga. Karena kita akan dikelompok kelompokkan akhirnya sesuai dengan diri kita sendiri.

Saya juga mengakui kok, sangat banyak kekurangan yang saya miliki. Dan justru itu tidak membuat saya malu. Karena dengan begitu saya jadi termotivasi untuk ingin memperbaiki dan memperbaiki lagi. Dan satu hal lagi, setidaknya itu membuktikan saya bahwa saya memang jenisnya manusia (tidak ada manusia yang sempurna, pepatah red) 

Malah perihal yang paling saya takutkan adalah pujian. Dengan pujian dapat membuat kita lengah (lupa diri) dan akhirnya merasa puas tidak mengkoreksi kembali. 

Tapi tetaplah, dengan Anda membaca halaman ini tujuan saya bukan ingin membuat Anda melakukan apa yang saya tuliskan. Saya tidak pernah mau menjadikan orang lain seperti yang saya inginkan. Biarkan semua berjalan alamiah sesuai dengan aturanNya, karena memang saya sangat percaya oleh ketetapan yang sudah Dia buat (takdir).

Kalau memang saya dicaci oleh Anda, maka saya memang harus intropeksi diri kembali. Saya harus cepat memperbaiki, saya harus cepat mengevaluasi, setidaknya itu baik bagi pelajaran baru untuk hidup saya. 

Saya sangat percaya masing-masing kita dilahirkan kemuka bumi ini memiliki tugas yang berbeda-beda. Saya, Anda, Mereka, dan yang lainnya sudah hampir bisa dipastikan memiliki tugas yang berbeda. Jadi saya fikir saya tidak perlu melakukan apa yang bukam tugas saya. 

Berfikir sejenak sambil menikmati kopi pagi ini memang sangat menggairahkan. Damai, tenang, hening dan hampir membawa saya kepada imajinasi mimpi. Yah setidaknya itulah kerjanya seorang seniman digital, harus bermimpi setiap hari agar membuahkan imajinasi.

Saya ingin meminta maaf kalau tidak akan pernah bisa membalas caci maki Anda (bagi orang yang membenci saya), akan tetapi saya hanya bisa menuliskan sebuah kisah tentang rangkaian perjalanan. Saya sangat takut kalau sampai melukai perasaan orang lain, karena saya berfikir saya tidak pernah bisa membuat sebuah objek yang bernama kalbu(perasaan) sekalipun menggunakan software 3d yang sudah canggih sekalipun. 

Mari sekarang kita terus berkarya, berbuat untuk dapat membantu orang banyak. Masing masing punya cara dan ala nya sendiri-sendiri. Buat saya tidak ada yang lain selain memikirkan bagaimana kawan-kawan yang satu studio saya dapat berhasil dan membuat satu karya yang bisa digunakan untuk orang baik. 

Terima kasih sudah mau membaca tulisan yang buruk ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat babi kalian yang sudah mampir kedalam blog saya. 





salam kreatif selalu, 




arie fabian
www.ariefabian.blogspot.com






















Reaksi Tulisan :

0 comments:

Posting Komentar

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.