Iklan :

27 Maret 2012

Antara Edukatif Atau Informatif


Sebuah media promo pada Print ad pada khususnya, adalah media dimana dia akan mengaktivasi orang yang akan disapanya. Ada dua jenis katagori disini dalam menyajikan sebuah materi untuk design tersebut. 

Saya sering membagi itu menjadi 2, yaitu : Informatif dan edukatif. Apa bedanya ?

Pengalaman yang saya jalani pada Fabian Studio dalam membuat design untuk sebuah brosur sekalipun,  saya tetap memerlukan satu materi design yang sangat terencana. Apa materi yang ingin disampaikan kepada audiencenya. 

Jika kita melihat pada gambar yang saya foto diatas, itu menampakkan sebuah brosur yang bersifat informatif. Karena disana sang RS. Mulya ini hanya menampilkan Jadwal dokter dan beberapa tagline tentang rumah sakit itu. 

Perbedaan informatif dan edukatif adalah, sebuah pesan yang edukatif mereka akan memberikan sebuah pengetahuan tentang bahayanya sebuah gangguan saraf motorik pada otak ...... Saya pernah mengerjakan materi promo print ad untuk HODCAA, dimana mereka adalah Dental Care And Aesthetic. 

Materi yang mereka buat itu berjenis Edukatif, dimana mereka menjelaskan sebuah penjelasan tentang keindahan gigi. Mulai dari pembuatan gigi sampai dengan bahasa kedokterannya. 

Memang dalam hal ini kita harus menjelaskan duduk permasalahanya terlebih dahulu. Ketika kita berjualan produk yang populer maka kita memang bisa menggunakan sebuah media promo yang berjenis informasi saja. Namun untuk beberapa produk yang tidak generik seperti saya melihat pada brosur diatas, sebuah pelayanan dokter saraf ini memang harus memerlukan sedikit edukatif. 

Kita bisa mencombine antara edukatif dan informatif, dan itu merupakan cara yang efektif. Jangan sampai salah pesan kepada audiencenya. Edukatif sedini mungkin lewat brosur yang anda sebarkan, atau salah persepsi bisa terjadi. 

Masih banyak juga sebagian orang yang saya temukan belum mengerti dengan benar perkara yang satu ini. Alhasil mereka hanya ingin membuat sebuah brosur yang terkesan hanya memberikan informasi tentang produk mereka. Mereka anggap produk mereka generik, dan alhasil tidak ada client yang datang ketempat mereka. 

Brosur terkadang hanya dilihat hanya sekedar kertas yang dibagi dan dibayangkan oleh mereka setelah dibagikan maka akan dibuang. Jika mempunyai mindset seperti ini mending jangan buat brosur, karena akan menghabiskan uang Anda. 

Berfikirlah bahwa brosur anda akan dibaca sebelum dibuang, dan itu memastikan bahwa informasi yang ingin anda sampaikan sampai kepada pembaca atau audience anda. Jika sudah begini maka Informasi tersebut tetap tinggal dikepala Audience anda walaupun brosurnya dibuang, itu yang seharusnya ditanamkan didalam mindset Anda. 

Berikan informasi yang terbaik untuk Audience anda, agar mereka dalam hitungan menit mengerti apa yang anda berikan kepada mereka. Karena dalam sebuah medium print ad untuk brosur ini sangat cepat waktunya. Berikan Headline yang menarik yang dapat membuat mereka mau membaca bagian kedua atau halaman selanjutnya. Jika memang bisa, buatlah mereka agar mau menyimpan brosur yang anda bagikan tersebut masuk kedalam tas mereka atau folder mereka, itu jauh lebih baik. 

Jangan terkesan membuat hal tersebut yang "asal ada" saja. Tapi fikirkan komposisi informasi yang akan anda sampaikan. 


Salam Kreatif,


@rie fabian 





Reaksi Tulisan :

0 comments:

Posting Komentar

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.