Iklan :

5 September 2011

Perang Branding membuat Konsumen Bingung

Google Image
Disana bilang nomor satu disini juga bilang nomor satu. Disana bilang yang terbaik, disini bilang yang terbagus. Kebingungan -kebingungan semacam ini sering saya temukan dalam memilih sebuah produk yang baik. Akhirnya kita terjebak untuk membuat satu analisa sendiri mana produk yang cocok untuk kita gunakan. 

Banyaknya lembaga riset saat ini membuat sebuah produk bertestimoni bahwa merekalah produk yang paling diminati oleh konsumen. Beda team riset dan survei maka beda pula hasilnya. Sayangnya kita sebagai konsumen tidak diberi tahu berdasarkan apa mereka bisa menjadi nomor 1, atau berdasarkan tim riset yang mana mereka bisa mengatakan nomor satu untuk produk mereka.

Disaat semua mengatakan demikian seakan kita ingin menutup kuping dan mata kita tidak untuk mendengar dan membaca apa yang mereka katakan dan tulis. Karena semua bisa jadi tidak akurat untuk kebutuhan konsumen itu sendiri. Mereka membuat bagus, baik, nomor satu, dll melalui cara mereka sendiri (melalui riset-riset yang konsumen tidak bisa mengerti). 

Lalu bagaimana kita menyikapi hal yang demikian, cuma ada satu cara coba dan buktikan. Akurasi seolah-olah ada pada konsumen sendiri. Ini yang dinamakan perang branding. Dimana satu sama lain saling mengklaim antara bagus dan baik, menjadi nomer satu dan pertama. 

Satu ambiguitas yang selalu diberikan kepada konsumen. Ini merupakan hal yang memang harus diperhatikan kepada para pencipta produk kepada Brand nya sendiri. Jangan sampai konsumen anda malah bosan mendengar slogan nomer satu anda. 

Kita kembali kepada satu dekade kebelakang, ketika kata discount menjadikan satu kalimat yang sakti yang dapat membius konsumen untuk impulsif membeli. Tapi berbeda dengan sekarang, para konsumen sudah banyak yang kritis dan pintar. Maka kata-kata discount akan dicross cek dua kali pada saat sebelum membeli (testimoni ibu-ibu). 

Jadi memberikan janji kepada konsumen yang muluk-muluk sudah bukan hal yang sakti kembali. Tak banyak pula sekarang mereka memberikan sebuah reality campagne untuk mendapatkan testimoni dari orang yang membeli produk mereka. Ini pun terkadang terlihat seperti sudah di set dan tidak real. 

Jadi memang harus diperhatikan kembali cara berkomunikasi kepada konsumen memang harus benar-benar pas. Siapa segmen yang ingin dituju masih merupakan cara yang sakti untuk merumuskan sebuah tagline atau adlibs produk kita. 

Tentukan kalimat utama anda, jangan sampai anda salah mengalamatkan kepada siapa anda berbicara. Jika sudah demikian seharusnya kalimat anda dapat didengarkan oleh calon konsumen anda. 


Salam kreatif, 



@rie fabian

0 comments:

Posting Komentar

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.