Iklan :

21 September 2011

Kenyataannya kita memang belum siap


Lihat satu perkembangan yang pesat untuk tekhnologi yang subur di Negara kita. Bahkan satu hal yang terus dikembangkan ke plosok-plosok pada dunia internet kini sedang digalakkan oleh pemerintah kita. Seakan ingin dionlinekan negara ini sesuai dengan standard dunia. 

Saya bisa mengatakan sebenarnya kita belum siap menerima perubahan ini. Satu perkembangan dari tekhnologi ini tidak berbanding lurus dengan pengajaran pancasila disebuah media pemblajaran. Dan juga sudah tidak berbanding lurus dengan pengajaran agama yang mulai terdengar usang ditelinga anak-anak sekarang.

Lebih keren menonton konser si Anu dibanding menengar siraman rohani, lebih baik menonton film bokep daripada mendengar video motivasi, lebih baik membaca tentang bagaimana caranya mencuri akses cepat agar semua keinginannya dapat terpuaskan. 

Ini salah satu krisis sosial yang terjadi belakangan ini. Dimana PEMERKOSAAN terus terjadi disana-sini layaknya binatang yang kawin dimana-mana, PERAMPOKAN terus terdegar kapan dan dimana saja, KEJAHATAN merajalela. Kesal sekali saya mendengar beberapa berita yang terus diulang dimedia televisi tentang pemerkosaan yang terjadi di mobil angkutan umum. Sungguh tak beradab. 

Namun inilah bagian dari mata pisau yang lainnya dari sebuah kemajuan. Kita bisa melihat, kita bisa merasakan dan kini benar-benar meresahkan. Ceramah-ceramah dianggap kuno sekarang oleh beberapa bagian orang. Bahkan itu sudah diusahakan dengan memperbanyak dan hampir rata bila kita melihat televisi jam 5 pagi semua tentan ceramah, tapi siapa yang mau nonton ? mereka baru selesai mengunduh filmnya dan akan pergi tidur jam segitu. 

Ego Sentris sudah menjadi budaya dan terus menggeser ketimuran kita. Sekarang perlahan tapi pasti kita sudah terjajah oleh budaya barat. Saya tidak menyayangkan pertukaran budayanya, tapi pertukaran kebiasaan buruknya yang sangat saya sesali. Ini sudah hampir mendarah daging secara terus menerus. 

Apalagi yang bisa kita banggakan dengan masyarakat-masyarakat yang sudah terkontaminasi seperti ini, mungkin sudah saatnya kita merenungi semua. Sudah saatnya para praktisi pengajaran dan pendidikan menelaah kembali apa yang telah mereka kaji dalam setiap tahunnya untuk disajikan kepada para pelajar-pelajarnya. 

Mengejar kualitas Standard Internasional itu boleh-boleh saja, tapi dimana Pancasilanya, jangan hilangkan metode pengajaran tentang etika, berbudi luhur dan menanamkan agama dalam sebuah sistem pengajaran. Saya tidak berbicara melulu islam. Apapun agamanya pasti mengajarkan kebaikan agar bisa menjadi dasar yang baik untuk melawan dan memfilterisasi budaya barat yang berlebihan. 

Teruslah menulis tentang kebaikan dan norma-norma ketimuran kita melalui media apapun yang kita bisa. Kita memang sedang terjajah dan sudah seharusnya kita sadar dan mengkaji ulang apa yang sudah kita perbuat. Kontrol sosial harus tetap dipertimbangkan kembali sebagai kesiapan kita dalam memberikan fasilitas kemudahan untuk mengekploring dunia internet itu sendiri. 

Jangan pernah bosan berbicara terus seperti ini agar bangsa ini lebih cepat dewasa dan bijak dalam menghadapi perubahan dan perkembangan dari jaman. Mari kita berbuat dan mari kita saling berbagi kebaikan. Perhatikan dampak sosialnya untuk mereka yang tidak siap menghadapi perubahan tersebut, atau memang anda senang anak anda yang akan menjadi korbannya. 


Salam Kreatif,



@rie fabian 



Reaksi Tulisan :

0 comments:

Posting Komentar

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.