Iklan :

2 Agustus 2012

Terjajah Oleh Fikiran Sendiri


Salah satu fungsi mata adalah melihat, inilah awal kisah dimana kita selalu terjajah oleh fikiran kita sendiri. Banyak orang yang selalu mengeluh akan hidup, dimana dia ternyata tidak menikmati hidup setelah lamanya dia terus makan dan minum sepanjang lebih dari 20 tahun. 

Diri yang merdeka bukan berarti mencari kebebasan yang tanpa batas. Diri yang merdekan adalah sebuah sikap yang mandiri dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Itulah kebebasan, tanpa merenggut hak orang lain, tanpa merampas milik orang lain, dan tanpa menyakiti orang lain.

Ketika mata kita melihat seseorang yang lebih baik dari kita, terkadang kita lupa bahwa mimpi kita lebih berharga dari apa yang kita lihat. Saat itu mata mengirimkan sinyal kepada otak untuk berkomunikasi betapa tidak seberuntung "dia". Kenapa saya begini terus, kenapa saya tidak bisa maju, kenapa saya tidak bermobil 2, kenapa dan kenapa .... ? 

Itulah sinyal yang ditangkap oleh pemikiran yang terjajah, iri dan dengki selalu menjadi bagian akhir dari ketidak bebasan itu. Seakan kita lupa bahwa kita punya mimpi, seakan kita lupa bahwa kita memiliki pemikiran. Kita sibuk menyalahkan diri kita ketika sebuah pencapaian yang tidak sempurna kita dapatkan. 

Lalu setelah itu akal berfikir dan mengirimkan sebuah kedengkian kepada hati, "Tuhan tidak Adil", "Tuhan tidak sayang", dan macam-macam sumpah serapah yang diucapkan oleh mulut yang terkontaminasi oleh hitamnya hati. 

Ketika dia bilang Tuhan tidak sayang, tapi selama 20 tahun dia selalu diberi makan oleh Sang Pencipta, ketika dia berteriak Tuhan tidak Adil, dia seakan lupa bahwa nafas yang diberikannya selama 20 tahun diberikan secara cuma-cuma sama halnya seperti yang diberikan kepada orang lain. 

Lalu kenapa kita rela terjajah oleh pemikiran kita sendiri ? 

Memerdekakan fikiran jauh lebih sulit dibandingkan merebut kemerdekaan R.I pada tahun 1945. Kenapa demikian ? karena kita selalu sulit membedakan mana nafsu dan ambisi yang selalu mengantarkan kita kedepan pintu gerbang iri dan dengki. 

Sudah saatnya sekarang kita memerdekakan fikiran kita yang terjajah, sudah saatnya kita membebaskan hati kita dari belenggu iri dan dengki. Boleh melihat sebagai motivasi, selebihnya jangan mengirimkan sinyal apa - apa kepada hati, itu akan membuat sebuah hati menjadi hitam kelam dan timbulah iri dan dengki. 

Stop menyalahkan apapun, apalagi Tuhan. Berubahlah, berubahlah, berubahlah .... 

Allah tidak akan merubah satu kaum jikamana kaum itu tidak merubahnya. Sungguh jelas kutipan Ayat tersebut, jika kita tidak berubah maka tidak akan ada perubahan. Bukan salah orang lain, bukan salah Setan, tapi semua karena diri kita sendiri. 

Disaat itu tidak akan ada yang bisa membantu selain diri kita sendiri. Lihatlah kedepan jalan Anda, lihatlah kedepan progres Anda, berhenti tidak menyukuri apa yang kita dapatkan selama ini. Kufur nikmat itu lebih bahaya efeknya. 

Ketidak puasan itu selalu dibuat berjalan bersama dengan kepuasan, sama halnya DIA menciptakan Gelap dan Terang. Maka bersihkanlah hati, dan lihatlah dengan seksama dengan mata yang bersih tidak dengan penuh iri dan dengki. 

Tidak usah iri kepada orang yang lebih dari kita, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dialami oleh orang itu secara detil. Yang kita lihat terkadang oleh banyaknya angka - angka, banyaknya jumlah Angka, dan Angka - angka yang lainnya. 

Sudah saatnya kita mempercayai diri kita sendiri, memaksimalkan kemampuan diri kita sendiri, dan melepaskan semua belenggu. Mari kita merdekakan pemikiran kita sendiri, dengan bersih, jernih dan tidak terkontaminasi oleh jumlah kita dengan yang lain. 

Sesunggunnya DIA bukan Maha Mengetahui kebutuhan setiap MakhlukNYA, maka nikmati saja. Dalam keadaan yang seperti apapun, selama kita berusaha tidak mungkin kita lalai oleh penglihatanNYA. 

Selama kita terus mencari, terus berjalan, maka jalan itu akan semakin terlihat luas. Dimana kita bisa terima apapun yang diberikanNYA, tanpa harus membanding - bandingkan dengan orang lain. Apa yang kita miliki tidak akan bisa dimiliki orang lain begitu juga sebaliknya. 

Maka nikmatilah hidup, nikmatilah waktu berjalan dari detik ke detik, dari menit ke menit dan dari tahun ke tahun. Terus kejar apa yang kita inginkan tanpa harus melihat kanan dan kiri sebagai bahan perbandingan dari usaha kita. 

Seberapa besar yang kita dapat itu jauh lebih baik dari pada kita menghitung - hitung milik orang lain. 



Salam Kreatif, 



@rie fabian - 




Reaksi Tulisan :

0 comments:

Posting Komentar

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.