Iklan :

8 Juni 2012

Budaya Menyalahkan


Seorang Anak kecil sedang asyik bermain bola disebuah jalanan yang dilalui oleh kendaraan. Memang jalanan itu tidaklah besar atau bukan disebut jalan raya. Tidak lama kemudian ada motor lewat melintas, tapat ditempat anak itu bermain bola. Reflek mengejar bola lalu anak itu berlari dan "menabrak" motor sampai anak itu terjatuh. 

Lalu Anak itu menangis kejar, sang pengendara motorpun turun dari motornya ingin membantu sang Anak tersebut. Tidak lama keluarlah orang tuanya :

Orang tua : WOOOOOOOOIIIIIII .... !!!!!!

(Sang Anak merintih kesakitan dan menangis, sang pengendara motorpun bingung 1000 kepalang)

Pengendara motor (PM) : Maaf Pak

Orang Tua : Pagimane sih lo, naik motor, kagak ngeliat jalan apa ? 

PM : Anak Bapak yang menabrak motor saya, Pak.
PM : Dia bermain bola di jalan, pas saya ....

Orang tua : TETEP AJE LO GAK PUNYA OTAK 
Orang tua : Emang anak gue segede kelinci gak keliatan ? 
Orang tua : Harusnya lo liat-liat dong kalau naik motor, bla bla, bla .. 


Kejadian ini tepat saya melintas dibelakang pengendara motor yang menabrak Anak kecil itu. Secara perspektif kita tahu siapa yang salah melalui versi cerita ini, dan pasti sang Orang tua pun mengertahui Anaknya bermain bola di Jalanan yang sering dilintasi oleh sepeda motor. 

Walau jalan itu tidak dilintasi oleh mobil tapi tetap aja motor sama anaknya gedean motor, lalu setelah kejadian begini yang disalahkan pasti pengendara motor. 

Apakah Anda Setuju ? 

Kenapa kita selalu tidak melihat kedalam diri kita dahulu, sebagai orang tua sudah benarkah tindakan kita, baru melihat kepada orang lain ? 

Ketika sudah kejadian begini maka orang lain yang disuruh menanggung atas "kelalaian" kita. Ini tidak adil bukan. Sudah sering saya melihat kejadian-kejadian mirip-mirip ini, dimana kesadaran kepada diri sendiri mulai dibatas-bataskan. 

Orang tua sibuk atau pura-pura sibuk dengan urusan "merumpi" nya, anak dibiarkan berkeliaran tanpa dibawah kontrol orang tua. Kalau orang tua yang laki-laki nih biasanya "kongkow" bahasa kerennya. 

Kenapa ada peraturan baru seolah-olah jika terjadi demikian kendaraan yang lebih besarlah yang salah, sebagai contoh : mobil tabrakan dengan motor pasti mobilnya dulu yang disalahkan, bahkan ada kejadian belum dilihat kronologisnya sudah dibakar pula mobilnya, ironis bukan ? 

Darimana asal-usul hukum demikian ? 

Coba deh kita berfikir sejenak, jika kita ada pada situasi yang tidak menguntungkan tersebut, padahal kita sudah benar dalam berjalan, mengendarai kendaraan kita, tapi begitu ada kejadian pun akhirnya kita yang salah. 

Dan yang lebih fatalnya lagi, ini dinikmati oleh orang yang bersalah. Seperti dalam kejadian anak kecil diatas, sang Ayah berusaha menikmati penderitaan sang sepeda motor dengan mengucapkan "memang anak saya sebesar kelinci", 

Bagaimana menurut Anda ? 

Mulailah kita rubah kebiasaan-kebiasaan yang membodohi kita sendiri dalam mengemban tanggung jawab atas diri kita dan keluarga. Marilah kita berfikir bijak atas apa yang telah terjadi pada diri kita. Dan mulailah digunakan sifat asli bangsa Indonesia, yaitu Musyawarah. 

Jangan langsung menunjuk, jangan langsung menyalahkan, jangan membesarkan amarah, jangan mengutamakan emosi, cobalah berfikir dingin dan bijak. 

Bilamana begini pasti pelan-pelan akan hilang budaya-budaya seperti ini. Maka kita bisa berasa nyaman dalam berada baik diluar maupun didalam lingkungan kita sendiri. Mari utamakan melihat kedalam diri kita sendiri lebih dulu, dibanding menyalahkan orang lain. 



Salam Kreatif, 


@rie fabian 









Reaksi Tulisan :

8 comments:

  1. sering bgt melihat kejadian kyk gitu..saling menyalahkan..yg ada mlh bikin ribut aja ya.. kl semua mau saling instropeksi diri & saling menghargai gk akan ada keributan yg gk perlu terjadi..
    salam kenal :)

    BalasHapus
  2. seperti juga yang terjadi ketika ayah saya mengalami kecelakaan beberapa bulan silam akibat ditabrak pengendara sepeda motor..

    dan mendapat kesimpulan bahwa kejadian itu hanyalah : musibah atas izin Tuhan..

    dan masalah selesai.. :)

    BalasHapus
  3. Betul! menyalahkan orang lain memang tak semestinya jadi budaya

    BalasHapus
  4. sering juga sy melihat kebiasaan, kalo si anak jatuh org tuanya akan blg "lantainya nakal ya.. tendang lantainya yaaa.."

    Kl anaknya kejedot meja "mejanya nakal ya, sini dipukul mejanya biar gak nakal"

    Sebetulnya secara gak langsung itu juga mengajarkan si anak utk melestarikan budaya menyalahkan.. Bukannya malah belajar dr kejadian itu..

    BalasHapus
  5. Mbak Erny >> Benar sekali mbak ... malah kadang akhirnya rugi keduanya jika sudah tersulut emosi bukan ?

    Salam kenal Juga,
    @rie fabian

    BalasHapus
  6. Secangkir Teh >> Terima kasih untuk komentarnya, saya ikut berbela sungkawa yah mas. Tapi semua memang sudah ada yang mengatur kalau kita ingin ikhlas.

    Salam Kenal mas.
    @rie fabian

    BalasHapus
  7. Mas Aji >> Yuk kita mulai dari diri kita sendiri.


    @rie fabian-
    www.fabianstudio,biz

    BalasHapus
  8. Untuk Ke2nai >> Salam Kenal mas.

    Itu benar sekali, budaya yang diturun temurunkan memang harus difilterisasi lagi untuk diturunkan kepada generasi selanjutnya.

    @rie fabian
    www.fabianstudio.biz

    BalasHapus

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.