Iklan :

18 Mei 2012

Menghargai sebuah Karya


" Ri, kamu di fabian studio yah ? ", kawanku berbicara lewat telp kepada saya. 

"Tolong bikinin saya logo dong, kamu kan jago design ", sapa dia kembali di telepon

Begini biasanya saya menerima telp dari kawan-kawan saya. Lalu proses bisnis terjadi dari kawan-kawan dan dari mulut ke mulut. Ada beberapa masalah untuk pengerjaan projek yang dikerjakan dari kawan-kawan, ada yang meminta discount dan ada pula yang meminta gratisan. 

Saya jadi teringat e book nya pandji, dimana sebuah karya seharusnya dihargai mulai dari kawan sendiri. Karena kawan kita mengerti bagaimana kita membuat itu, begadang, menggarap ide, berhari-hari, sekarang minta gratisan, gimana coba ?

Kalau bukan mulai dari teman maka siapa yang akan menghargai karya kita ? 

Dalam e booknya pandji menceritakan bagaimana udjo project Pop bertanya kepada Pandji tentang albumnya sudah keluar apa belum, dan pandji pun memberikan kepada udjo cd nya sambil berkata, "Ini aku berikan gratis buat kang Udjo", karena Pandji berasa ada beberapa lagu yang terinspirasi dari Album Project Pop. 

Tapi Udjo menolak, dan dia bilang, nggak saya gak mau gratisan. Dan beberapa hari kemudian Udjo membawa Cd itu menyodorkan kepada Pandji, ini tolong ditanda tangani Ji. 

Itu dalam hal musik, dimana kalau tidak dimulai dari kawan yang menghargai maka tidak ada lagi orang lain yang berfikir harga tentang karya. 

Jadi kalau kita diminta untuk teman kita maka kita harus konsisten kepada sebuah karya tersebut. Jika dia minta gratisan, maka saya percaya dia bukan kawan kita, karena tidak ada proses menghargai. 

Bukan berarti Jasa yang saya tawarkan kepada kawan lalu Anda bisa bicara, ah dia kan kawan saya, jasa pembuatan designya gratis aja kali, ini yang harus dirubah paradigmanya. Kita bekerja, kita begadang, kita mencari sebuah inspirasi untuk membuat dari satu layout ke layout lainnya, maka kita masa tidak pantas dibayar apalagi dia kawan kita. 

Banyak yang dilema tentang perkawanan, tetapi saya tidak keliru memposisikan itu. Sebab bilamana saya ingin membuat satu hal kepada kawan saya, saya tidak ingin mendapatkannya gratisan. Karena saya tahu mereka sudah bekerja. 

Mari terus percaya kepada karya kita, baik dan buruk itu selalu relatif. Kalau tidak sekarang kapan lagi kita bicara tentang harga. Selamat berjuang pada seniman Indonesia. 

Terima kasih untuk Pandji atas ebooknya. 



Salam Kreatif, 



@rie fabian 
















Reaksi Tulisan :

6 comments:

  1. sosialisasi first, barulah bicara harga :)

    BalasHapus
  2. Iya setuju sangat, penghargaan itu selayaknya mulai dari kawan sendiri. Tapi memberikan gratis kepada mereka dan mereka menerimanya, bukan berarti kawan tak menghargai..Mungkin mereka akan lebih sukarela bercerita kepada yg lain, sehingga terpicu word of mouth yg berbuntut karya tersebut akan semakin dikenal :)

    BalasHapus
  3. Strateginya untuk jasanya seikhlasnya saja...Ikhlasnya Bapak/Ibu/Mas/Mbak/Jojon Ridho Allah buat saya karena ilmu dari Tuhan pada dasarnya tidak bisa diperjualbelikan,tapi untuk bahan bakunya ada harganya karena saya beli juga...bahan baku apa? bahan baku listrik,kopi,rokok,nasi,nutrisi yg diperlukan oleh tubuh saya dalam proses pencarian dan keluarnya ide yg kreatif,briliant

    BalasHapus
  4. Thanks Jojon sudah mengingatkan.


    @rie fabian-
    www.fabianstudio.biz

    BalasHapus
  5. gokil.....cerita yg menerik...justru seribu karya buruk akan menghasilkan 1 karya super dasyat...

    chek this out
    www.karyanyatasosial.com
    Indonesia’s Major Problem And How To Solve It

    BalasHapus
  6. Wakakakakakaakakak makasih om ....


    @rie fabian-
    www.fabianstudio.biz

    BalasHapus

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.