14 Juli 2015

Konsumtif ke-Bablasan


Iklan, artikel, Review terus mendorong Kita untuk menjadi yang paling konsumtif dari pada yang lainnya. Kita terus disajikan oleh gambar dan suara yang terus mengisi otak kita dengan sebuah Brand. Baru saja kita selesai membeli satu brand lalu tidak lama lagi Brand tersebut akan mengeluarkan versi terbarunya. 

Yang lebih mirisnya Kampanye Konsumen bijak nyaris tidak terdengar suaranya. Padahal kalau dilihat-lihat fenomenanya banyak yang terjebak dengan Konsumtif kebablasan. Ketika seorang karyawan terjebak dengan tagihan kartu kreditnya karena hampir setiap bulan dia terus mengganti gadgetnya akibat salah pergaulan itu sudah bukan barang baru lagi gue liat. 

Salah dia sendiri dong, kata beberapa temen gue, dan gue memang sepakat sih. Tapi alangkah indahnya jika Kita juga dapat himbauan dari Pemerintah pesan-pesan tentang pemberitahuan konsumen bijak. 

Gue sering banget datang kekantor client dan terjebak pada pertanyaan "Bro, Brand A mengeluarkan serie terbaru, menurut lo gue perlu beli gak ?" 

Semata-mata itu dia beli hanya untuk meningkatkan strata, biar dibilang update, gak ketinggalan dari teman-teman yang lainnya. Yang jadi momok buat dia adalah, ketika dia hangout dengan kawan-kawannya dia takut diketawain karena gadgetnya gak update. 

Ini salah dimananya kalau menurut lo sebagai pembaca blog gue ? 

Gue fikir Sosialita itu cuma julukan buat ibu-ibu doang, Bapak-bapak juga banyak bro, he he he. Biar gue kasih tau semuanya berdasarkan fungsi aja, tapi akhirnya tetap aja dia beli ada saat gue ketemuan selanjutnya. Dia pasti bilang, fitur ini tuh buat apa yah bro ? 

Dan Dia sama sekali tidak memaksimalkan gadget yang versi terbaru, melainkan hanya mengejar bentuknya saja. Biasanya gue nanya gini, Yang lama kemana Pak. Kalau ada gue pasti bisa dapat gadget yang belum ketinggalan jauh banget dengan harga murah, bingo. 

Tapi diujung bulan dia selalu bilang kegue, tagihan kartu kredit gue banyak amat yak. Gue pengen ketawa rasanya dan bilang sama dia, selamat Anda sudah terjebak didimensi Konsumtif yang kebablasan. Tapi sayangnya gue gak tega ngomongnya, jadi yah ikut prihatin aja. 

Hidup dikota Jakarta ini gak susah-susah amat sebenernya. Memang betul cari duit gampang disini, gue akui itu kok. Cuma yang jarang selamat yang tidak bisa memilih pergaulan saja sebenarnya. Dimana akhirnya dengan gaji yang besar tiba-tiba pengeluaran pun membesar, dengan gaji yang sedikit juga tidak selalu berimbang dengan pengeluaran. 

Miris dengan para Konsumen sekarang ini sebenarnya, dan sudah diambang kekhawatiran sebenarnya. Mudah-mudahan tulisan gue ada manfaatnya, minimal kalau memang baca tulisan gue dan sudah segitu konsumtifnya, ada baiknya deh lo therapy kartu kredit. Kalau memang belum menjadi yang sekonsumtif itu dijaga aja ritmenya, jangan sampai masuk kedalam dimensi yang gue bilang tadi. 

Selamat menjalankan Ibadah Puasa men temen.



2 komentar:

  1. Konsumtif kebablasan = ini udah mendarah-daging di masyarakat indonesia :D

    BalasHapus
  2. Setuju ... memang budaya konsumtif terus didorong agar kita lupa cara membuat. Dan ini memang harus dibarengi oleh karya cipta negeri sendiri agar bisa memulai dari kita untuk kita dan oleh kita. Terima kasih sudah berkunjung keblog saya ....

    BalasHapus

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.