Iklan :

6 Oktober 2012

Antara Ilmu dan Menjaga Hubungan


Sudah 1 minggu saya mengawasi jalannya pembangunan papan reklame di daerah Jakarta Barat. Dalam perencanaan pembuatan Wall Sign ini, saya membagi kerjaan dalam 3 tahap.


Tahap pertama adalah pembangunan struktur bangunan, dimana tembok dibuat untuk membuat huruf timbul nantinya. Tahap kedua adalah memasang keramik untuk tembok dan tahapan terakhir adalah pemasangan letter sign, untuk Koperasi Kodanua. 

Pada tahap pertama saya melakukan outsourcing kepada kawan saya. Disetiap pekerjaan saya selalu mendahulukan kawan - kawan saya agar saya dapat berbagi kerjaan kepada kawan - kawan saya. Dan dalam memilih siapa yang akan mengerjakan, sudah tentu saya juga melihat dari latar belakang pendidikannya. Karena buat Saya "letakkanlah sesuatu pada tempatnya, serahkanlah sesuatu pada Ahlinya", itu sudah prinsip saya dalam menggarap pekerjaan sekecil apapun. 

Karena pekerjaan yang dikerjakan bukan oleh ahlinya akan menyebabkan kesalahan yang sangat fatal. Tidak semua kawan juga saya beri sembarangan pekerjaan, karena akhirnya nanti bukan hanya merugikan saya sendiri tapi akan merugikan banyak orang, termasuk client saya. 

Untuk pembangunan Struktur ini, saya memilih kawan saya yang memang sudah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Pancasila jurusan Arsitek 4 tahun lalu. Dia memang sudah terbiasa membuat bangunan mulai dari perencanaan sampai dengan eksekusinya. 

Pembangunan struktur tembok menempel pada pagar yang sudah dimiliki oleh Koperasi. Yang diperlukan adalah memotong pagar dan menggunakan badan pagar tersebut. Lalu Struktur dibangun ulang dengan memasang beberapa sloop untuk penambahan sanggahan tembok tersebut. Lalu menyusun batu bata untuk mencapai ketinggian 3 x 3 meter. 

Finishing dilakukan dengan Semen Aci dan plester. Itu untuk memudahkan pemasangan keramik. Pada bagian belakang tembok rencananya akan dicat. Lalu pada bagian depan saya akan menanam rumput itu untuk menambah keindahan estetika bentuk dari papan nama ini. 

Mulailah saya memanggilnya kekantor, lalu saya memberikan perencanaan gambar tembok yang akan saya buat. Tembok yang akan saya buat adalah ukuran 3 x 3 meter. Dan ini pun sangat standard sekali, karena bentuknya kotak, tidak seperti Tembok yang saya buat di rumah sakit Jiwa. 

Setelah menunjukkan perencanaan gambar, lalu saya lanjutkan dengan negosiasi harga. Setelah itupun akhirnya terjadi kesepakatan, bahwa proyek ini tahap 1 dan tahap 2 kawan saya yang menggarapnya. Sekarang sudah hampir satu minggu dan pengerjaan pembuatan tembok itu tidak urung selesai. 

Lalu apa permasalahannya ? 

Buat seorang Arsitek yang sudah mengenyam pendidikan sekian lama dibidangnya, terlunta - lunta mengerjakan tembok berdimensi kotak berukuran 3 x 3 meter. Ada apa sebenarnya ? Jadi yang terjadi adalah lalai dalam mengawasi jalannya pembangunan. 

Karena terlihat begitu mudah akhirnya dia lalai mengawasi para pekerja yang mengeksekusi pekerjaannya. Jumat kemarin akhirnya saya bertemu dilokasi pembangunan dengan kawan saya tersebut. Lalu dia pun mengeluhkan lamanya pembangunan tersebut kepada saya. 

Sebuah kerjaan yang diberikan oleh kawan, bukan artinya disepelekan. Walau terlihat pekerjaan itu sangat sepele dikerjakan dengan sepele. Sudah seharusnya kita mengerjakan pekerjaan itu dengan profesional tanpa harus melihat siapa yang memberikan pekerjaan tersebut. Apalagi dari kawan, jika saya pribadi, saya akan mengerjakannya dengan konsentrasi 200 %. 

Karena ini sebuah pekerjaan berat menurut saya, yang pertama adalah kita memang harus profesional dan yang kedua adalah menjaga hubungan baik dengan kawan saya sendiri. Itu alasannya kenapa harus konsentrasi 200 %. 

Jika kita gagal mengerjakan apa yang kawan kita berikan kepada saya, maka kita bukan saja tidak berlaku profesional akan tetapi kawan kita pasti akan kehilangan reputasinya didepan banyak orang, terutama client dia. 

Jadi jika disepelekan maka akan berdampak fatal bagi banyak orang. Bagi kasat mata, pekerjaan membuat tembok berukuran 3 x 3 meter bagi seorang yang sudah sering berkecimpung dibidang ini, adalah hal sepele. Karena saya yakin dalam keadaan merem pun dia sudah pasti bisa mengerjakannya. 

Namun karena dilihat terlalu sepele, akhirnya menggampangkan pekerjaan yang ada. Inilah yang menimbulkan kelalaian sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi orang banyak, termasuk dia sendiri. 

Sudah seharusnya pembangunan itu tetap diawasi bukannya ditinggal. Yang namanya tukang jika ditinggal sudah barang pasti pengerjaannya jadi lebih lama, dan yang paling terpenting kualitas dari barang itu tidak bisa dijaga. 

Akhirnya selesai rapat kemarin akhirnya saya memutuskan untuk tetap bekerja sama dengan dia, namun saya minta pekerjaan itu mulai hari senin ditunggui. Ini untuk mencegah fatalnya kesalahan dan mencegah ditolaknya pekerjaan ini dari client saya. 

Hari senin seharusnya sudah masuk tahapan finishing dengan meng Aci bagian tembok. Dan agenda berikutnya adalah meminta Approval kepada client saya sebelum memasang keramik. Itu mencegah faktor X apabila saya memasang keramik terlebih dahulu tapi struktur temboknya tidak disetujui, maka saya akan membongkar ulang tembok tersebut. 

Sekarang saya tinggal meilhat hasil akhir dari pembangunan pada hari senin nanti. Saya tetap berdoa untuk kebaikan semua, agar pekerjaan ini bisa diterima oleh client saya. 



Salam Kreatif, 



@rie fabian - 
www.fabianstudio.biz 




Reaksi Tulisan :

2 comments:

  1. agak rancu memang yah om kalo kerja sama dgn teman dalam masalah kerjaan. keep semangatlah . maju terus usahanya.

    BalasHapus
  2. Jay >> Iya bener om ...


    @rie fabian -
    www.fabianstudio.biz

    BalasHapus

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.